My Story

Minggu, 31 Maret 2013

Sepucuk Surat Untuk Seseorang

Ku tuliskan segalanya tentang dirimu dalam suratku ini...

Ku mulai dari awal pertemuanku dengan dirimu, aku yakin 100% jika kau pasti sudah lupa. Apalagi dengan daya ingatmu yang tak baik itu. Hahahahaha… Maaf hanya bercanda, tapi pasti jadi fitnah jika aku bilang ingatanmu itu baik. *Lari menjauh* dan karena ingatanku sangat baik, maka akan aku ceritakan sedikit. Aku yakin, kamu pasti tidak tahu jika saat pertama bertemu denganmu kata pertama yang terbersit dibenakku adalah ‘culun’. Hahahahaha dilarang mukul ya. Rambut belah tengah, baju seragam dikancing sampai leher apalagi dipadu dengan gayamu yang sok cool. Aduh aduh… sama sekali salah tempat. Benci adalah kata yang tepat mewakili perasaanku saat itu.

Tapi ternyata benar kata orang-orang. Benci itu memiliki kepanjangan Benih Cinta. Yup. Rasa itu mulai mampir, bahkan menetap didalam hati dan tak mau pergi. Kita mulai dekat, mulai saling curhat, saling berdebat, walaupun kamu yang lebih sering minta pendapat tentang cewek-cewek yang kamu taksir. Sakit adalah kata yang sering muncul di hatiku setiap kali kamu curhat tentang cewek yang kamu suka. Rasa sakit itu menjadi lebih sakit, saat kamu bilang kalau cewek itu sudah jadi pacarmu. Ternyata rasa sakit itu mulai menimbulkan luka, kala ku lihat dirimu jalan dengannya.

Tapi hanya satu hal yang bisa ku lakukan. Tersenyum. Karena hanya dengan tersenyum, aku tetap bisa berdiri sejajar denganmu. Tetap bisa menjadi seseorang yang kamu butuhkan untuk meluapkan semua unek-unek dihatimu. Jujur saja saat kamu putus dari pacarmu, aku melompat bahagia. Rasa bahagia itu mengobati luka di hati. Walau luka itu selalu terbuka dan tertutup. Tapi aku tetap setiakan? Kamu pasti baru sadar kalau ternyata cewek yang selalu kamu anggap seorang adik ini, menyimpan perasaan sedalam itu.

Hmm, tahu nggak. Dibalik semua hal diatas, sebenarnya aku sangat bahagia dengan kamu mau mengganggapku sebagai adik. Itu membuktikan, bahwa aku lebih penting dari semua cewek-cewek itu. Hahahahaha. Tapi ada satu hal yang sekarang aku sadari, seandainya saat itu aku tetap dengan keegoisanku untuk menjadi kekasihmu. Mungkin hubungan kita tak akan bertahan sampai sekarang. Jadi, walau harus sakit setiap kali melihatmu dengan kekasihmu. Aku tetap bisa tersenyum, karena aku adalah adikmu. Apalagi disaat aku terpuruk karena kehilangan hal berharga, dirimulah yang menarikku dari kegelapan dan kembali berani melihat kedepan.

Terima Kasih karena telah mencintaiku dengan caramu. Terima Kasih karena telah mengijinkanku masuk kedalam kehidupanmu. Terima Kasih karena telah memberikan posisi terbaik bagiku dalam hatimu.


Kamu adalah jawaban bagi semua pertanyaan. alasan di semua hal terbaik dalam hidup. Harapan bagi mimpi-mimpiku.

Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku....

Jadi salahkah jika aku tak ingin siapa pun memilikimu?
Atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar