Ku tuliskan segalanya tentang dirimu dalam suratku ini...
Ku mulai dari awal pertemuanku dengan dirimu, aku yakin 100% jika
kau pasti sudah lupa. Apalagi dengan daya ingatmu yang tak baik itu.
Hahahahaha… Maaf hanya bercanda, tapi pasti jadi fitnah jika aku bilang
ingatanmu itu baik. *Lari menjauh* dan karena ingatanku sangat baik,
maka akan aku ceritakan sedikit. Aku yakin, kamu pasti tidak tahu jika
saat pertama bertemu denganmu kata pertama yang terbersit dibenakku
adalah ‘culun’. Hahahahaha dilarang mukul ya. Rambut belah tengah, baju
seragam dikancing sampai leher apalagi dipadu dengan gayamu yang sok
cool. Aduh aduh… sama sekali salah tempat. Benci adalah kata yang tepat mewakili perasaanku saat itu.
Tapi ternyata benar kata orang-orang. Benci itu memiliki kepanjangan Benih Cinta.
Yup. Rasa itu mulai mampir, bahkan menetap didalam hati dan tak mau
pergi. Kita mulai dekat, mulai saling curhat, saling berdebat, walaupun
kamu yang lebih sering minta pendapat tentang cewek-cewek yang kamu
taksir. Sakit adalah kata yang sering muncul di hatiku
setiap kali kamu curhat tentang cewek yang kamu suka. Rasa sakit itu
menjadi lebih sakit, saat kamu bilang kalau cewek itu sudah jadi
pacarmu. Ternyata rasa sakit itu mulai menimbulkan luka, kala ku lihat
dirimu jalan dengannya.
Tapi hanya satu hal yang bisa ku lakukan. Tersenyum. Karena hanya
dengan tersenyum, aku tetap bisa berdiri sejajar denganmu. Tetap bisa
menjadi seseorang yang kamu butuhkan untuk meluapkan semua unek-unek
dihatimu. Jujur saja saat kamu putus dari pacarmu, aku melompat
bahagia. Rasa bahagia itu mengobati luka di hati. Walau luka itu selalu
terbuka dan tertutup. Tapi aku tetap setiakan? Kamu pasti baru sadar
kalau ternyata cewek yang selalu kamu anggap seorang adik ini,
menyimpan perasaan sedalam itu.
Hmm, tahu nggak. Dibalik semua hal diatas, sebenarnya aku sangat
bahagia dengan kamu mau mengganggapku sebagai adik. Itu membuktikan,
bahwa aku lebih penting dari semua cewek-cewek itu. Hahahahaha. Tapi
ada satu hal yang sekarang aku sadari, seandainya saat itu aku tetap
dengan keegoisanku untuk menjadi kekasihmu. Mungkin hubungan kita tak
akan bertahan sampai sekarang. Jadi, walau harus sakit setiap kali
melihatmu dengan kekasihmu. Aku tetap bisa tersenyum, karena aku adalah
adikmu. Apalagi disaat aku terpuruk karena kehilangan hal berharga,
dirimulah yang menarikku dari kegelapan dan kembali berani melihat
kedepan.
Terima Kasih karena telah mencintaiku dengan caramu. Terima Kasih
karena telah mengijinkanku masuk kedalam kehidupanmu. Terima Kasih
karena telah memberikan posisi terbaik bagiku dalam hatimu.
Kamu adalah jawaban bagi semua pertanyaan. alasan di semua hal terbaik dalam hidup. Harapan bagi mimpi-mimpiku.
Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku....
Jadi salahkah jika aku tak ingin siapa pun memilikimu?
Atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar