Sadness. Kesedihan. Kepedihan. Rintihan. Apapun sebutannya semua orang pasti pernah ngerasain hal inikan. Gak terkecuali gue sendiri. Cuma yang berbeda adalah alasan kita kenapa sampai kita dihampiri sama perasaan ini. Perasaan yang terkadang, saking kuatnya sampai bikin beberapa orang ngelakuin hal ekstrim karena nggak tau gimana harus ngilangin atau ngatasin perasaan ini.
Kalau ditanya kesedihan terbesar yang pernah gue rasain selama 25th hidup gue adalah saat Nyokap dipanggil Sang Pemilik Semesta untuk kembali berada disisinya. Waktu itu gue masih 16th, dengan dua orang adik yang masing berusia 13th and 5th.
Saat itu gue ngerasa Tuhan gak adil. Gak adil buat gue, puput, and ponco. Apalagi saat itu nyokap ninggalin seorang ponco yang masih kecil dan masih butuh nyokap. Gue nggak bisa mikir gimana gue harus ngadepin semua yang datengnya tiba-tiba. Tiang utama yang menjadi penyangga di keluarga kecil gue, harus rubuh secara tiba-tiba dan ninggalin tiang-tiang kecil yang entah sampai kapan bisa bertahan.
Perginya nyokap ke Sang Pemilik Semesta benar-benar bikin gue harus bisa tegar. Karena waktu itu gue berpikir, gue anak pertama. Gue harus bisa jadi kaya nyokap. Selalu itu yang gue tanem di dalam otak gue, dan seolah jadi sugesti buat gue. Tapi sayangnya pikiran itu bikin gue malah semakin terpuruk, saat semuanya nggak berjalan sesuai keinginan gue. " Ternyata nggak segampang itu buat jadi seorang seperti ibu." itu kata gue. Hal ini terus aja bikin gue tertekan. " Gimana caranya bisa kaya nyokap?" " Gimana caranya bisa bikin ponco ma puput nurut?" " Gimana... gimana... dan gimana...????" terus menerus hal itu berputar di otak gue.
Sampai akhirnya gue menyadari sesuatu yang seharusnya tiap bulan seorang wanita kedatangan "tamu" (red : menstruasi ), tapi "tamu" ini nggak pernah dateng di gue. Gue diem karena gue nggak tau harus cerita atau bilang kesiapa soal ini, gue nggak mungkin cerita kebokap gue karena gue pikir cowok gak pernah ngalamin yang namanya kedatangan tamu bulanan.
Ditemenin tante gue, gue periksa ke dokter. Dokter bilang ini biasa buat remaja seumuran gue. Gue dikasih resep obat yang harus gue minum 3 bulan berturut-turut, menurut dokternya kalo udah 3 bulan nanti bakal lancar kaya biasa lagi. " Tamu"nya memang datang selama 3 bulan di tanggal yang sama dan selalu selesai di tanggal yang sama juga. Tapi ternyata setelah gue berhenti mengkonsumsi obat, dia nggak pernah dateng lagi. Akhirnya dokternya ngasih gue resep yang sama dan gue harus mengkonsumsi obat itu lagi selama 3 bulan lagi.
Gue pindah ke Solo untuk ngelanjutin study gue, obat itu tetap gue bawa. Hasilnya? Sama. Setelah nggak mengkonsumsi obat itu, dia nggak dateng lagi. Hal ini semakin bikin gue frustasi. Kok bisa sih? Kenapa? Sampai akhirnya seorang teman yang berkuliah di ilmu psikologi bilang " kayanya kamu mesti periksa ke psikolog deh. Soalnya bisa aja ternyata itu karena rasa tertekan." begitu katanya. Oke gue tampung masukkannya. Tapi gue belum ngelakuin sarannya sampe sekarang.. Hehehe maaf sist, aye belum sempet soalnya.
Jujur aja gue setuju sama pendapat dia, karena beberapa kali di saat gue lagi happy dan bisa ngelupain semua masalah gue biarpun cuma sebentar. Sang 'tamu' dateng. " Wah, kayanya gue emang punya masalah kejiwaan nih." gitu pikir gue.
Semenjak gue tau bahwa ternyata memori terdalam dari diri gue ternyata masih menyimpan trauma tentang kepergian nyokap dan itu berdampak buruk buat diri and tubuh gue. Gue mencoba, gue belajar untuk mengubah kesedihan karena ditinggal nyokap sebagai sebuah pembelajaran bahwa siapapun dia, suatu saat dia pasti akan kembali menghadap Sang Pemilik Semesta dan gue juga berusaha menghilangkan semua rasa marah gue dulu pada Sang Pemilik Semesta karena memang kita nggak boleh marah ke Dia. Gue selalu bilang dalam hati "Tuhan punya rencana lain dibalik semua musibah atau kejadian yang menimpa umatnya" and i believe in God.
Now I'm learning something new. If we always feel sad and do not try to resolve it. Its adverse effects will weigh on our minds and bodies. Whether that will happen naturally like me, you're going to be mad, or even suicide.
So, belajar untuk selalu berpikir positif atas semua kejadian yang menimpa kita adalah solusi terbaik. Berpikiran positif juga bagus buat kehidupan dan bikin kita bisa melihat semua masalah dari sisi yang berbeda. " Oh ternyata Tuhan manggil nyokap gue, karena tugas nyokap di bumi udah selesai." itu yang sekarang gue pikirkan dan gue selalu yakin suatu saat nanti walau di dunia yang lain gue pasti bakal ketemu lagi sama nyokap.
Berpikiran positif adalah kata kunci untuk setiap orang menjalani hidup dengan baik. Jangan mengambil kesimpulan yang aneh-aneh. Jangan pernah menyalahkan Sang Pemilik Semesta karena memang Dia nggak salah. Hidup itu pilihan, kalau kamu lebih memilih untuk terpuruk terus menerus dalam kesedihanmu maka hasil buruklah yang bakal kamu dapat. Kalo kamu memilih untuk meninggalkan kesedihanmu dan berjalan maju, maka indahnya hiduplah yang bakal kamu dapetin. ^^
So, sedih itu boleh tapi nggak berlebihan ya. Masih banyak hal indah diluar sana yang bisa dinikmatin. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar